quranKisah pembelajaran Abdullah, haafidzul Qur’an usia 10 thn.

Ayahnya, Farid Fadhillah, bercerita:

Beberapa orang bertanya kepada saya tips dan trik anak mudah menghafal Alqur’an sementara orang tuanya bukanlah hafidz atau hafidzah dan anak tersebut bersekolah di sekolah umum yang tak ada program Tahfidzul Qur’an.

Saya memberi mereka gambaran kondisi Abdullah dan uminya sebagai guru utamanya. Abdullaah, qadarullaah, termasuk anak yang lambat bicaranya. Dia baru berbicara di usianya 4.5 tahun.

Sementara ibunya bukanlah hafidzah, juga bukan ustadzah, hanya orang biasa saja. Abdullah pun sekolah di sekolah umum bukan pesantren. Bukan pula sekolah tahfidz sebagaimana umumnya di jumpai di Saudi. Abdullah mulai belajar Al qur’an dari saya dengan panduan kitab IQRA, usianya 4.5 tahunan ketika itu. Dan Abdullah mulai menghafal Al quran dengan bimbingan uminya di usia menjelang 5 tahun.

Dia menghafal dari potongan suku kata, Uminya membaca pertama kali lalu dia ikuti per suku kata, berpuluh-puluh kali. Setelah hafal suku kata tersebut, pindah ke suku kata berikutnya, terus berpuluh2 kali di ulangi. Sampai dapat 1 baris. Kemudian di ulangi lagi 1 baris tersebut berpuluh-puluh kali. Sampai dia hafal betul. Setelah itu baru pindah ke baris ke 2.

Terkadang Abdullah hanya mendapat 1 atau 2 baris saja tergantung kondisinya. Oya, Abdullah menghafal dari belakang ke depan, kecuali Al Fatihah. Jadi surat pertama setelah Al Fatihah adalah An Naas, dst sampai surat Al Baqarah. Dia akan mengulangi lagi apa yang dia hafalkan pada hari kemarin sebelum dia menambah 1 atau 2 baris lagi hari ini. Terus begitu hingga dapat 1 surat. Setelah itu barulah dia mengulangi surat tersebut di satu hari itu saja. Dia akan murojaah lagi ketika sudah dapat satu halaman.

Uminya -masyaAllaah- luar biasa sabar membimbing hafalan per suku kata ini sampai Abdullah hafal 2 juz terakhir, yakni 29 dan 30. Setelah itu barulah dinaikkan hafalannya menjadi 4 baris sehari hingga maksimal setengah halaman. Karena dia juga harus belajar pelajaran lainnya. Hafalan 4 baris hingga setengah halaman perhari ini berlangsung kira-kira sampai juz ke 20.

Selama masa aktif sekolah paling banyak dapat 2 juz saja. Dia dapat banyak hafalan ketika musim liburan. Tentunya semakin lama semakin cepat hafalannya, sampai ketika sudah kurang 5 atau 6 juz terakhir dia sanggup menghafal hingga 4.5 halaman perharinya. Seingat saya Al Baqarah selesai dalam waktu kira-kira minggu bertepatan musim liburan antar semester di Saudi.

Ketika musim liburan sekolah, Abdullah mulai menghafal setelah sarapan pagi pukul 6 waktu Saudi. Kemudian selama 2 jam dia menghafal hingga pukul 8, lalu istirahat setengah jam, kemudian hafalan lagi sampai jam 10, istirahat lagi setengah jam, Kemudian lanjut lagi hingga jam 12. kemudian sholat Dhuhur dan makan siang dan istirahat hingga pukul 2 siang. Kemudian pukul 3 siang lanjut lagi sampai waktu Ashar. Setelah Ashar lanjut lagi hingga Maghrib.

Istri saya juga mendidik hafalan adiknya Abdullah yaitu Abdurrahman, yang Alhamdulillah kini sudah dapat 12 juz. Sementara Abdullah hafalan sendiri, uminya menerima setoran adiknya. Setelah adiknya selesai setor hafalan, gantian Abdullah yg setor, sementara adiknya hafalan sendiri, terus begitu. Istri saya hampir tiap malam sampai sakit punggung akibat lamanya duduk untuk menyimak hafalan dan setoran anak-anak.

Sudah 5 tahun lebih seperti itu, sekarang Abdullah hanya tinggal muroja’ah hafalannya, dan proses menghafal dipindah ke Abdurrahman. Dalam 1 tahun kedepan giliran adiknya Abdurrahman yaitu Abdurrazzaq sudah menunggu juga… Subhanallah.

=====

Sekian cerita beliau. Cerita di atas saya dapatkan langsung dari pak Farid selaku ayah dari Abdullah, dan beliau sudah izinkan untuk berbagi cerita di atas.

If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.