mitch-diamond-silhouette-of-children-playing-outdoors

Setiap orang tua pasti ingin memiliki anak-anak yang berperilaku baik, patuh pada orang tua, dan pandai bersosialisasi. Harapan-harapan tersebut akan mudah dicapai jika orang tua mampu membimbing anak untuk mewujudkannya. Lingkungan keluarga memiliki pengaruh dan peran besar dalam pembentukan karakter anak. Keluarga yang saling menyayangi, saling menghormati dan saling menghargai satu sama lain akan menciptakan kondisi yang memudahkan anak untuk berperilaku baik sesuai harapan kedua orang tuanya.

Kemampuan anak untuk bersosialisasi dan berperilaku baik sesuai dengan harapan orang tua dan lingkungan tidak terlepas dengan kemampuan anak mengkomunikasikan perasaannya (emosi). Mengapa emosi? Ya, ternyata emosi memiliki peran penting terhadap perkembangan anak, khususnya perkembangan sosial anak.

Emosi merupakan bentuk komunikasi anak dengan orang lain. Melalui ekspresi emosi yang ditampilkan anak, maka seorang anak dapat memperlihatkan kebutuhannya, keinginannya, harapannya, dan perasaannya kepada orang lain, khususnya kepada orang tuanya. Anak yang memiliki ketegangan emosi akan mempengaruhi keterampilan motorik anak. Misalnya : saat marah, anak menjadi susah menulis. Selain itu juga akan mempengaruhi kosentrasi dan daya ingatnya. Misalnya : anak yang lagi kesal akan sulit untuk menghapalkan doa-doa pendek, sebaliknya anak yang sedang senang lebih mudah menghapalkan surat-surat pendek yang kita ajarkan.

Tingkah laku emosi dipengaruhi oleh penilaian lingkungan sosial mengenai dirinya dan penilaian diri anak terhadap dirinya sendiri. Masih banyak orang tua yang mengkaitkan perasaan tidak menyenangkan (marah, menangis, iri) dengan watak anak yang buruk. Si adik yang iri dengan kakaknya, dianggap memiliki watak ’pencemburu’. Sedangkan kakaknya yang berusaha mempertahankan barang yang dimilikinya dikatakan sebagai kakak yang tidak mau mengalah dengan adiknya (egois).

Selain itu orang tua kerap kali menyebut anaknya ’nakal’ karena sering merusak barang dan menyusahkan orang tuanya. Anak yang terus-menerus dikatakan nakal, akan semakin membuat anak memandang bahwa dirinya memang nakal. Ini akan menjadi konsep diri anak. Ketika anak menilai dirinya sebagai ’aku adalah anak nakal’, maka anak cenderung bertindak ’nakal’ sesuai dengan konsep dirinya kalau dia benar-benar anak yang ’nakal’.

Segala emosi yang menyenangkan (senang, bangga, gembira) atau tidak menyenangkan (sedih, marah, iri, kecewa, takut) akan mempengaruhi anak ketika melakukan interaksinya dengan lingkungan sosial. Seorang anak yang memiliki pemahaman mengenai ”apa yang sedang dia rasakan” akan memudahkan anak untuk mengenali perasaannya, mengatur perasaannya, menenangkan perasaannya, mengekspresikan perasaannya dengan tepat dan menyelesaikan sendiri masalahnya.

Pengulangan reaksi emosi anak yang ’berkembang’ ini akan menjadi kebiasaan dan menetap menjadi karakternya. Namun, kemampuan pengelolaan emosi setiap anak ini berbeda –beda, tergantung dengan usia, pola asuh orang tua, dan kondisi psikologis anak saat stimulasi emosi itu terjadi. Oleh karenanya, pengelolaan emosi anak harus terus dilatih.

Emosi biasanya dikaitkan dengan perasaan marah. Padahal bukan hanya itu, makna emosi lebih luas lagi. Emosi merupakan perasaan seseorang yang ditujukan kepada orang lain atau terhadap sesuatu. Emosi dapat terlihat ketika : anak merasa senang pada sesuatu yang disukainya, anak marah kepada seseorang yang menganggunya, anak terkejut karena sesuatu yang tidak biasa, ataupun anak takut terhadap hal yang menakutkan. Emosi anak sangat mirip dengan orang dewasa. Namun berbeda dari cara berpikir mereka yang masih sederhana. Selain itu, anak juga belum mengerti perbedaan antara ‘mengalami’ perasaan dan mengekspresikannya dengan tepat supaya bisa bertingkah laku mengendalikan emosinya.

Anak akan belajar mengekspresikan perasaannya, dari respon dan tanggapan yang diberikan orang tuanya. Seringkali orang tua sangat cepat ‘bereaksi’ terhadap ekspresi emosi anak dengan langsung memberi nasehat, mengomeli bahkan memarahinya. Saat mengetahui anaknya bertengkar dengan adiknya, orang tua langsung buru-buru melerai dan menasehati anaknya. Anak yang mengeluh bahwa ia tidak suka sarapannya, langsung dinasehati agar segera menghabiskan makannya tanpa banyak mengeluh. Anak yang marah karena tiba-tiba ibunya mematikan TV yang asyik dia tonton, langsung ibu balas memarahi anak karena terlalu lama menonton. Dan anak yang menangis karena berpisah dengan temannya, orang tua segera menyuruh anaknya berhenti menangis dan menasehati supaya jangan sedih berlebihan.

Orang tua kadang kurang bisa menerima emosi tidak menyenangkan yang ditampilkan anak. Seperti pada pernyataan berikut ini : “sudah jangan nangis, anak sholeh itu nggak cengeng lho”, “ah masa gitu aja kamu nggak berani sih!”, “sudah nggak usah dipikirkan, masa hilang mainan aja kamu nangis”, “kakak ngalah dong sama ade”, “kamu ini nakal banget sih, berani marah-marah sama ayah ya”, dan seterusnya.

Seorang anak yang mengalami emosi tidak menyenangkan, sebenarnya ia merasa ada sesuatu yang tidak nyaman di dalam dirinya. Perasaan ini akan mempengaruhi perilaku yang ditampilkan anak. Biasanya tampilan perilaku anak yang tampak di mata orang tua adalah perilaku yang dianggap ‘tidak baik’, (misalnya : anak menangis, marah-marah, membentak, merusak barang). Orang tua yang segera menasehati dan memarahi anak, hanya akan membuat anak makin merasa tidak nyaman, malas berbicara dan menghindari orang tua, atau malah makin meletup-letup emosinya.

Anak akan merasa ‘baik’ saat orang tua mau menerima emosinya, menghargai kondisinya dan memberikan respon yang tepat. Anak hanya ingin perasaannya ‘di akui’. Ketika kita dapat mengakui perasaannya, maka anak akan belajar mempercayai perasaannya, termasuk menjadi pandai mengatur emosi mereka dan menyelesaikan masalahnya. Pada saat kita berusaha untuk menerima emosinya, mungkin akan membutuhkan beberapa menit untuk bisa membuat anak belajar ‘menenangkan’ perasaannya sendiri. Bila anak sudah merasa ‘tenang’, anak akan lebih mudah untuk berfikir dengan jernih mengenai apa yang dirasakan, mengapa dia bisa mengalami perasaan itu, apa yang terjadi dengannya, dan bagaimana caranya agar dia bisa menyelesaikan masalahnya.

Kunci sukses untuk bisa melatih anak-anak supaya memiliki kemampuan mengkomunikasikan perasaannya (emosi) dengan tepat dan bijak adalah kita belajar berempati mendengarkan anak (empathic listening). Empati itu tidak sama dengan simpati. Simpati berarti “ feeling for someone” sedangkan empati adalah “feeling as someone”.

Dalam empati, terdapat dua komponen penting yaitu :
(1) affective empathy : kemampuan untuk mengidentifikasikan dan melabelkan perasaan anak. Kita bisa mencoba atau membayangkan seolah-olah berada di posisi anak kita. Dengan merasakan apa yang dirasakan anak, maka kita akan lebih mudah untuk memahami perasaan dia sebenarnya dan menghargai kondisinya saat itu. Hal ini bagus untuk mengasah empati kita kepada anak.

(2) cognitive empathy : kemampuan untuk mengasumsikan sesuatu dari sudut pandang atau perspektif anak. Dengan berempati, maka kita lebih mudah menerima pendapat anak dan menghargai usaha yang dilakukan anak untuk menyelesaikan masalahnya.Mendengarkan anak dengan empati (empathic listening), berarti kita menerima emosi anak dan memberikan respon yang tepat terhadap apa yang dirasakan anak. Menerima emosi anak, berarti kita menerima emosi apapun yang dirasakan anak saat itu dan memberi dia kesempatan untuk mengenali perasaannya sendiri.

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua agar menjadi seorang pendengar yang berempati (empathic listener) terhadap anak-anaknya, yaitu :
1) menggunakan panca indra kita untuk mengidentifikasi dan mengamati petunjuk dan isyarat fisik dari emosi anak ( lihat wajahnya, tangannya, suaranya, desahan napasnya)
2) menggunakan imajinasi kita untuk melihat situasi tersebut dari sudut pandang anak (misalnya : membayangkan gimana ya rasanya kalau aku berada di posisi dia)
3) menggunakan kata-kata untuk merumuskan kembali dengan cara yang menenangkan dan tidak mengecam. Artinya kita mencoba merefleksikan kembali apa yang dirasakan anak dengan ungkapan yang tepat (“mama lihat kamu lagi kesal banget ya?”)
4) membantu anak memberi nama emosi yang mereka rasakan tersebut (misalnya : “kamu kecewa ya bu guru hanya memberi nilai 8 untuk prakaryamu”)
5) menggunakan hati untuk merasakan apa yang sedang dirasakan oleh anak.

(*) Tulisan dibuat berdasarkan tesis ibu Shinta Rini di bidang Psikologi Anak, Unpad Bandung

If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.