muslim familyAlhamdulillah kami ucapkan jika anda merasa mantap untuk membekali pendidikan Islam anak-anak anda dengan metode Sekolahrumah (Homeschooling ). Langkah selanjutnya adalah membekali diri anda untuk dapat menjadi guru, staf administrasi, dan teman baik anak anda selain peran sebagai orangtua yang menginginkan tercetaknya generasi penerus bangsa yang cinta Al Qur’an dan As Sunnah dan meniti jalan salaful ummah. Yang demikian itu disebabkan pola pendidikan Sekolahrumah banyak melibatkan peran orangtua sebagai penyelenggara pendidikan bagi anaknya.

   Sekolahrumah dianggap sebagai suatu bentuk pendidikan “murah meriah” (dan Alhamdulillah direstui pemerintah). Yang tidak kalah penting adalah para orangtua dapat menanamkan ilmu kepada anak sesuai manhaj ahlussunnah wal jama’ah.  Seorang petinggi DIKNAS RI mengatakan bahwa Sekolahrumah dapat membantu program  wajib belajar sembilan tahun yang dicanangkan pemerintah Indonesia . Namun kata beliau untuk dapat melaksanakan sekolahrumah dengan baik, seseorang memerlukan wawasan dan pengetahuan tentang berbagai pendekatan dan cara melaksanakan sekolahrumah yang benar. Oleh karena itu kemampuan orangtua untuk menjadi pengajar bagi anaknya adalah syarat mutlak untuk menyelenggarakan Sekolahrumah. Hal ini tentu saja bukan dalam rangka menyurutkan langkah ikhwah sekalian untuk memberikan pendidikan metode Sekolahrumah untuk anak anda. Namun semua itu untuk meyakinkan kita semua agar kesinambungan pendidikan anak-anak kita tetap terjaga.

Ada satu model Sekolahrumah yang dijelaskan DIKNAS yaitu Sekolahrumah Majemuk. Jika mengacu kepada penjelasan DIKNAS tersebut maka bentuk Sekolahrumah yang kami jalankan adalah Sekolahrumah Majemuk yaitu beberapa keluarga sepakat menjalankan Sekolahrumah. Bentuk Sekolahrumah ini lebih mudah bagi para orangtua yang belum memiliki pengalaman mengajar, terutama mengajar anak-anak yang memiliki karakteristik unik. Tak dapat dipungkiri bahwa kemampuan mengajar sama pentingnya dengan ilmu yang diberikan bagi orangtua yang ingin menerapkan metode Sekolahrumah. Adapun orangtua yang menyelenggarakan sendiri disebut dengan ‘Sekolahrumah Tunggal.’

Dalam penyelenggaraannya, Sekolahrumah yang kami jalankan dibantu oleh lulusan Pondok Pesantren bermanhaj salaf, diantaranya lulusan pondok pesantren Al Furqon Gresik, Minhajussunnah Bogor, syaikh Jamilurrohman Yogyakarta. Dengan dibantu oleh ikhwah yang pernah mengecap pendidikan di pondok pesantren memudahkan kami untuk menyusun kurikulum diniyah sekaligus metode mengajarkannya.

Sebagai tambahan tulisan di Al Mawaddah beberapa edisi lalu tentang kunjungan ke Pondok pesantren Al Furqon Gresik, setelah berkunjung ke Pondok Al Furqon, kami melanjutkan kunjungan ke Pondok Thoifah Kediri,  Imam Bukhari Solo dan Jamilurrohman Yogyakarta. Tujuannya adalah mempelajari dan membandingkan kurikulum yang diterapkan di pondok-pondok tersebut. Salah satu pola pendidikan yang diterapkan di pondok-pondok tersebut adalah menitikberatkan kepada hafalan Al Qur’an. Alhamdulillah hal itu kami terapkan pula pada anak-anak kami sehingga mereka memprioritaskan hafalan Al Qur’an, hafalan Hadits (Arbain An Nawawiyah dan hadits hadits pendek lain) dan materi Diniyyah seperti Fiqh, Aqidah, Akhlaq dan Siroh. Kami bersyukur kepada Allah karena anak-anak kami disibukkan dengan menghafal Al Qur’an. Nasehat kami janganlah terpengaruh syubhat yang mengatakan kebiasaan menghafal menjadikan bangsa ini terbelakang. Kita harus yakin bahwa seiring dengan bertambahnya ilmu dan berkembangnya intelektual dan emosional anak-anak, mempelajari Al Qur’an dan As Sunnah pada gilirannya akan memudahkan mereka mengatasi permasalahan hidup bahkan permasalahan yang dihadapi bangsa ini sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah  berdasarkan pemahaman salaful ummah sebagai referensi pertama dan utama mereka.

Adapun kurikulum pendidikan umum lebih mudah untuk kami susun karena buku-buku pelajaran umum dapat diperoleh dengan mudah. Namun perlu adanya tashfiyah dari buku buku pelajaran umum yang akan diberikan ke anak-anak kita. Untuk lebih aman, orangtua dapat mengajarkan pendidikan umum dengan pendekatan tematis. Misalnya jika kita ingin mengajarkan pelajaran Bahasa Indonesia kepada anak-anak kita maka pilihlah tema-tema Islam dalam pengajaran bidang studi tersebut. Contoh lain,  pengajaran matematika dengan memberikan soal cerita: Ahmad kemarin bershodaqoh sebanyak 500 rupiah. Hari ini dia bershodaqoh lagi sebesar 2000. Berapa banyak uang yang dishodaqohkan Ahmad? Hal ini tentu saja menuntut kreativitas orangtua dalam mengajarkan anak-anaknya. Saya sarankan juga untuk mempelajari buku-buku pelajaran SD yang diterbitkan Yayasan Al Sofwa Jakarta Insya Alloh karena semua materi pelajaran umum sudah dikemas sedemikian rupa agar sejalan dengan manhaj Salaf. Selain itu Yayasan Al Sofwa juga menyediakan buku-buku diniyah yang Insya Alloh dapat digunakan untuk bahan ajar sekolahrumah kita. Wallohu a’lam. Tak kalah pentingnya adalah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga mereka merasa betah di sekolah sekaligus rumahnya. Tidak jarang anak-anak tidak termotivasi belajar karena faktor suasana belajar yang membuat mereka malas. Berdasarkan pengalaman, mayoritas anak-anak usia 7-9 belum memiliki intrinsic motivation(motivasi yang berasal dari dalam dirinya.) Salah satu teknik menanamkan motivasi kepada anak adalah dengan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, cara belajar siswa aktif selain tentu saja do’a orangtua agar anaknya senantiasa mencintai belajar. Dan salah satu teknik pengajaran yang paling efektif adalah dengan keteladanan. Maka mulailah benahi diri kita sebelum membenahi anak-anak kita. Ingat! Rosululloh shollollohu alaihi wa sallam berhasil mencetak manusia -manusia sekaliber shohabat ridhwanulloh alaihim ajmain salah satunya adalah dengan keteladanan.

   Aspek lain yang harus diperhatikan adalah mengetahui bahwa anak-anak kita memiliki karakteristik unik. Dalam satu keluarga boleh jadi antara anak yang satu dengan yang lainnya berbeda karakternya. Namun satu hal yang pasti adalah anak-anak kita berada diatas fithrohnya dan tugas para orangtua menjaga anak-anak agar senantiasa berada diatas fithrohnya. Mereka ini ibarat gelas kosong yang siap diisi apa saja dan para orangtualah yang mengisi gelas kosong tersebut. Maka nasehat kami perhatikanlah karakter dasar anak-anak kita dan bekali serta isi anak-anak kita dengan tarbiyyah yang memungkinkan mereka untuk senantiasa berada diatas fithrohnya. Al Qur’an dan As Sunnah berdasarkan pemahaman salaful ummah akan membuat anak-anak kita senantiasa berada di atas fithrohnya.

Adapun karakteristik anak-anak secara umum yang kami temui berdasarkan pengalaman adalah:

  1. Mereka enerjik, seringkali tidak mau diam dan sering bergerak kesana kemari terutama anak laki-laki. Nasehat kami, bersabarlah dalam menghadapi karakter yang satu ini meskipun bukan berarti senantiasa membiarkan mereka bergerak semau mereka.
  2. Mereka antusias, serba ingin tahu dan tertarik dengan apa saja. Manfaatkan karakter ini dengan memperlihatkan dan menceritakan sesuatu. Misalnya: bawalah gambar-gambar pemandangan seperti gunung, sungai, sawah. Biarlah mereka menikmati gambar tersebut sambil bertanya: siapakah yang menciptakan semua ini?..dst. Atau tanyakanlah bahasa arab untuk gunung, awan, dst? Selain itu anak-anak sangat antusias sekali jika diceritakan kisah kisah kepahlawanan yang kami ambil dari buku-buku Siroh. Manfaatkan karakter ini untuk menanamkan kisah-kisah yang sarat keteladanan dan kepahlawanan dari tokoh-tokoh Shohabat, sehingga mereka terbiasa mengidolakan Abu Bakar, Umar, Hamzah dan para shohabat lainnya -semoga Alloh meridhoi mereka.
  3. Mereka cepat. Anak-anak cepat sekali menghafal dan cepat merekam apa yang mereka dengar dan lihat. Manfaatkan karakter ini untuk menghafal Al Qur’an dan Al Hadits. Lihatlah bagaimana salah seorang Imam Ahlussunnah Wal Jama’ah yang sangat dihormati dan populer di Indonesia yaitu Imam Syafi’i, beliau hafal Al Qur’an di usia dini. Namun jangan lupa mereka belum memiliki motivasi dari dalam dirinya sehingga orangtua harus senantiasa membimbing anaknya untuk mengulang ulang hafalan Al Qur’an agar hafalan tersebut tidak hilang. Putarkanlah kaset murottal Al Qur’an. Selain itu yang tidak kalah penting adalah menjauhkan anak-anak dari media televisi. Hampir tidak mungkin  menyandingkan ‘ma’had’ yang anda bangun di rumah untuk anak anda dengan media perusak paling wahid di rumah. Keberadaannya  akan membunuh karakter anak sekaligus mangacaukan hafalan Al Qur’an anak anda! Ingat anak akan cepat merekam pengaruh buruk televisi!
  4. Mereka ribut.  Janganlah terpancing emosi  dalam menghadapi karakter yang satu ini dan jangan terburu-buru memvonis anak anda dengan vonis ‘nakal dan tidak mau diatur.’Jangan membayangkan anak-anak seperti anda yang duduk tenang ketika pengajian berlangsung. Namun sekali lagi bukan berarti anak-anak dibiarkan ribut dan tidak memiliki adab. Anda harus sabar dan dapat mengendalikan emosi dalam menghadapi keributan anak dan pandai menyusun kata-kata yang baik dan pas bagi anak-anak ketika menasehati anak anda. Jangan lupa do’akan anak ketika mereka berbuat kesalahan seperti  ashlahakumulloh dan berikan pujian berupa do’a jika mereka berbuat kebaikan dengan do’a Barokallohu fiik.
  5. Mereka anak-anak. Anak-anak adalah anak-anak. Maka bersikaplah realistis dan tidak menuntut tuntutan yang melampaui kemampuan mereka. Anak-anak walaupun sudah diberi pemahaman tentang Ilmu Dienul Islam namun mereka tetap membutuhkan bimbingan dan pengawasan. Misalnya biarpun mereka telah diajarkan beberapa adab Islami seperti tidak boleh makan dengan berdiri namun seringkali mereka makan sambil berdiri bahkan sambil berjalan. Oleh karena itu, jangan membayangkan bahwa dengan sekali atau dua kali pengajaran tentang adab-adab Islami kemudian secara otomatis mereka akan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Disinilah pentingnya peran orangtua sebagi murobbi yakni senantiasa mengawasi dan membimbing anaknya serta senantiasa mendoakan mereka.
  6. Mereka menyenangkan. Pertama kali yang harus ditanamkan adalah anak-anak dapat menyenangkan anda, oleh karena itu bersikaplah positif terhadap anak-anak. Wallohu a’lam.

Karakter anak tersebut hanya contoh kecil yang kami temui ketika menjalankan Sekolahrumah Majemuk. Perbanyaklah membaca buku-buku pendidikan anak diantaranya buku Nida Ilal Murobbiyyin Wal Murobbiyyat Lit Tawjihil Banin Wal Banat (Petunjuk Praktis Bagi Para Pendidik Muslim) oleh Syaikh Muhammad Jamil Zainu, yang diterjemahkan oleh Ustadz Ahmas Faiz terbitan Pustaka Istiqomah, tahun 1997. Atau buku yang belum lama ini terbit berjudul “Begini seharusnya menjadi Guru” karya syaikh Fuad terbitan Darul Haq Jakarta. Namun sekali lagi dunia pengajaran adalah dunia praktek dan teknis, artinya tidak berhenti kepada teori di atas kertas saja. Saran lain, jika memungkinkan undang ustadz-ustadz salafy untuk memberikan dauroh di kota anda tentang pendidikan anak sekaligus sosialisasikan metode Sekolahrumah ini kepada saudara-saudara kita yang lain dan ajak mereka untuk menjalankan bersama-sama.  Selain itu adakan program berbagi dengan komunitas Sekolahrumah Salafy di sekitar anda (jika anda sudah mempraktekkan Sekolahrumah) untuk memecahkan masalah-masalah yang timbul sekaligus sharing tentang teknik pengajaran serta sharing bahan ajar. Hal ini akan banyak manfaatnya sehingga anak anda akan senantiasa di update dengan teknik pengajaran serta bahan ajar terkini. Wallahu a’lam. Mendidik anak memang perlu banyak persiapan dan pengorbanan, namun pahalanyapun besar dan akan senantiasa mengalir walaupun kita sudah meninggal dunia jika anak kita menjadi anak-anak yang sholih. Mudah-mudahan kita semua diberi kekuatan untuk mencetak anak sholih dan sholihah.

Berdasarkan tulisan Abu Maryam di dokumen Grup FB SunniHomeschooling

*photo credit:  mitchellkphotos.com

If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.